Cara Daftar Internet Banking BCA

30 Dec

ย 

sebagian dari anda tentu penasaran dan ingin mencoba menggunakan fasilitas layanan E-banking atau Electronic Banking. Sayang kan, sudah disediakan tidak kita gunakan๐Ÿ™‚.

KlikBCA home

Kali ini Mas Anam akan membahas bagaimana cara mendaftar Internet Banking BCA atau yang lebih populer dengan KlikBCA dan bagaimana menggunakan Internet banking dengan aman. Biar lebih enak, saya cerita saja pengalaman daftar dan menggunakan Internet Banking BCA.

Langkah:
1. Buka tabungan (Tahapan/Giro) BCA dan mendapatkan Paspor BCA (ATM BCA) bila anda belum memiliki
2. Daftar Internet Banking BCA di kantor cabang terdekat atau daftar melalui ATM BCA

  • Langkah daftar di ATM BCA
  • Pilih menu Daftar Auto Debet/E-Banking di sebelah kiri bawah
  • Pilih Internet Banking
  • Masukkan 6 digit angka sebagai PIN Internet Banking Anda
  • Tunggu beberapa saat dan anda akan mendapatkan struk (print out) registrasi Internet Banking anda yang di dalamnya berisi USERNAME anda
  • Selesai tahap ini, anda tinggal melakukan aktivasi di situs Internet Banking BCA

3. Aktivasi Internet Banking BCA di situs KlikBCA

  • Sebelum melakukan proses ini, anda perlu menyiapkan kartu ATM (16 digit nomor di kartu ATM) dan alamat email pribadi anda yang aktif
  • Buka situs Internet Banking BCA, KlikBCA di http://www.klikbca.com
  • Klik menu Login Individual (nasabah non perusahaan)
  • Masukkan username sesuai struk pendaftaran dan password yang telah anda buat melalui ATM
  • login KlikBCA
  • Aktivasi, akan muncul halaman persetujuan syarat penggunaan Internet Banking
  • Baca dan pelajari, lalu klik setuju di bagian bawah
  • Anda akan dibawa ke halaman aktivasi dan diminta memasukkan beberapa data
  • Masukkan data2 anda, email, 16 digit nomor kartu ATM, username sesuai di struk pendaftaran dan PIN, 6 digit yang anda masukkan untuk pendaftaran di ATM
  • Lakukan login dengan username dan password anda
  • Lanjutkan, dan Selamat, Internet Banking anda telah aktif dan dibawa ke halaman sambutan
  • Sukses Login KlikBCA

Anda telah berhasil aktivasi KlikBCA dan bisa melakukan transaksi non finansial seperti Cek Saldo, Mutasi Rekening (Masuk Keluar) hari ini sampai 31 hari kebelakang (+/- 1 bulan).
Untuk dapat melakukan transaksi finansial seperti pembayaran telepon, listrik, air, dan transfer maka anda harus memiliki KeyBCA dan aktivasi di kantor cabang terdekat.

Cara mendapatkan keyBCA dan Tips Keamanan akan saya jabarkan dalam tulisan lanjutan.
Selamat Mencoba Internet Banking BCA di KlikBCA, Nikmati kebebasan bertransaksi kapan saja dari depan komputer, laptop, smartphone atau PDA anda.

http://masanam.co.cc/cara-daftar-internet-banking-bca

Pensiun Jadi Kiai

26 Dec

Pengajian rutinan yang diadakan di sebuah masjid di Malang, Jawa Timur, sudah dua bulan ini diliburkan. Pak Kiai yang biasa membacakan kitab kuning tidak pernah keluar rumah. Ia lebih senang menyendiri.

Paling-paling ia hanya keluar untuk shalat Jum’at, lalu pulang. Sementara imam shalat lima waktu diwakilkan kepada para santrinya.

Suatu saat seorang warga memberanikan diri mencegat kiai di pelataran masjid usai mengikuti shalat Jum’at.

“Pak Kiai kenapa Anda tak lagi mengaji?” tanyanya penasaran.

“Saya sudah pensiun,” jawab kiai sambil lalu.

“Kenapa pensiun kiai?”

“Saya lihat di TV sekarang apa-apa boleh, semuanya sudah boleh. Lalu buat apa saya baca kitab kuning?”

Warga tadi tak bisa menjawab. (nam)

NU Berharap Satu Idul Fitri

26 Dec

NU berharap Satu Hari Raya Idul Fitri. Harapan itu cukup beralasan, mengingat adanya keseragaman dalam mengawali Puasa Ramadlan 1429 H. Keseragaman awal Ramadlan menjadi motifasi menuju Satu Idul Fitri.

Keseragaman ini lahir karena ada kebijakan bersama yang memperhatikan aspek-aspek tertentu sehingga mampu mengelola dan merangkum perbedaan, yakni aspek syarโ€™i, astronomis, geografis, dan aspek politis.

Kebiajakan bersama yang akan diambil untuk menentukan Idul Fitri 1429 H hendaklah mempertimbangkan aspek-aspek tersebut sehingga terwujud Satu Hari Raya.

Aspek Syarโ€™i menekankan, bahwa kebijakan bersama itu berlandaskan ajaran Rasulullah SAW. tentang rukyah (observasi hilal).

Aspek Astronomis menekankan, bahwa kebijakan bersama itu berlandaskan tinjauan astronomis mengenai kriteria visibilitas hilal.

Aspek Geografis maksudnya, bahwa kebijakan bersama itu dengan memperhitungkan letak geografis Indonesia yang amat luas merupakan satu kesatuan wilayah hukum.

Aspek Politis menekankan perlunya interfensi pemerintah agar kebijakan bersama itu dapat diberlakukan bagi seluruh umat Islam.

NU telah siap berkontribusi untuk mewujudkan Satu Hari Raya Idul Fitri 1429 H dengan berbagai persiapan, antara lain:

1. Membuat hitungan hisab awal bulan jauh sebelum pelaksanaan rukyah sebagaimana tertuang dalam almanak NU setiap tahun. Hisab NU menggunakan metode yang tinggi akurasinya dengan menerima kriteria imkanur rukyah (visibilitas hilal). Hisab demikian ini digunakan untuk memandu, mengontrol, dan mendukung pelaksanaan rukyah, sehingga tercapai rukyah yang berkualitas.

2. Menyelenggarakan rukyah untuk 1 Syawal1429 H pada tanggal 29 Ramadlan 1429 H/29 September 2008 M di 55 titik yang strategis dari Sabang sampai Merauke dengan menerjunkan 99 Pelaksana Rukyah Nasional bersertifikat di samping para alim ulama ahli rukyah dan ahli hisab di tiap-tiap tempat tersebut. Rukyah ini sekaligus menjadi sarana koreksi atas hitungan hisab.

3. Terlibat dalam sidang-sidang BHR untuk mempersiapkan sidang itsbat. NU akan melaporkan hasil rukyah dan sekaligus memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam sidang itsbat sebagai wujud kontribusi NU dalam proses pengitsbatan.

4. Mencipatakan ketenangan bagi umat dengan tidak segera mengumumkan sikapnya tentang kepastian Idul Fitri 1429 H. Sesudah itsbat pemerintah, kemudian NU mengikhbarkan.

Berangkat dari keseragaman dalam mengawali Puasa Ramadlan 1429 H. akan hadir Satu Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

Jakarta, 24 Ramadlan 1429 H
24 September 2008 M

Drs KH A Ghazalie Masroeri
Ketua Lajnah Falakiyah PBNU

Kurban Berupa Uang

26 Dec

Mendermakan uang itu lebih simpel dibanding mendermakan benda lain. Sehingga terkadang ada di antara kita melaksanakan kurban dengan membagikan uang seharga hewan kurban. Praktek seperti ini tidak sah sebagai kurban karena kurban adalah suatu bentuk ibadah yang dikhususkan dengan penyembelihan binatang ternak sebagaimana ditegaskan di dalam QS. Al-Hajj: 34

ูˆูŽู„ููƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู…ูŽู†ู’ุณูŽูƒู‹ุง ู„ููŠูŽุฐู’ูƒูุฑููˆุง ุงุณู’ู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุจูŽู‡ููŠู…ูŽุฉู ุงู’ู„ุฃูŽู†ู’ุนูŽุงู…ู

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang telah dirizkikan oleh Allah kepada mereka โ€ฆโ€ฆ ” (Al-Hajj: 34)

Walaupun tidak sah sebagai kurban, tetapi tidaklah sia-sia dan tidaklah termasuk bid’ah meskipun secara implisit Rasulullah SAW tidak pernah melaksanakan, melegitimasi, dan mengakuinya.

Dalam logika atau nalar fikih uang yang dibagikan dengan niat kurban itu menjadi shadaqah atau sedekah. Adapun keutamaan sedekah mengenai beberapa nashnya sudah cukup jelas. Akan tetapi, betapa sayang bila kurban sebagai ibadah tahunan yang kita laksanakan itu tidak diterima sebagai kurban karena kita melaksanakannya dalam bentuk pembagian uang.

Bertolak dari ayat di atas, ulama Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah menyatakan, bahwa kurban adalah ibadah yang aspeknya adalah iraqah ad-dam (penyembelihan) yang berarti tidak boleh digantikan dengan benda lain termasuk dalam bentuk uang. Ulama’ Hanafiyyah yang membolehkan membayar dalam bentuk uang untuk zakat apa pun, ternyata secara tegas tidak membolehkannya untuk kurban.

Dalam hal ini, Muhammad ibn Abi Sahl As-Sarkhasiy (Wafat 490 H.) di dalam Al-Mabsuth; juz II, h.157 menyatakan, bahwa zakat bagi para mustahiq berdimensi kemaslahatan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehingga bolehlah diberikan berupa harganya. Sedangkan kurban adalah suatu ibadah dalam bentuk penyembelihan. Sehingga seandainya setelah dilakukan penyembelihan dan sebelum dibagikan, ternyata hewan qurban itu hilang atau dicuri orang misalnya, tetaplah ibadah kurban itu sah.

Lebih jauh ia menyatakan, bahwa penyembelihan kurban itu tidak dapat diukur dengan harga, dan mengandung makna atau esensi yang tidak dapat digambarkan kemuliaannya. Adapun penggalan kalimatnya sebagai berikut:

ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู’ู„ู…ูุนู’ุชูŽุจูŽุฑู ูููŠ ุญูŽู‚ู‘ูู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุญูŽู„ู‘ูŒ ุตูŽุงู„ูุญูŒ ู„ููƒูููŽุงูŠูŽุชูู‡ูู…ู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูุชูŽุฃูŽุฏู‘ูŽู‰ ุจูุงู„ู’ู‚ููŠู’ู…ูŽุฉู ุจูุฎูู„ูŽุงูู ุงู„ู‡ูุฏูŽุงูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ุถู‘ูŽุญูŽุงูŠูŽุง ููŽุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽุญูู‚ู ูููŠู’ู‡ูŽุง ุฅุฑูŽุงู‚ูŽุฉูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู…ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ู‡ูŽู„ูŽูƒูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุฐู‘ูŽุจู’ุญู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ู†ูŽุธููŠู’ุฑู ุจูู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู„ู’ุฒูู…ู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูˆูŽุฅุฑูŽุงู‚ูŽุฉู ุงู„ุฏู‘ูŽู…ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุจูู…ูุชูŽู‚ูŽูˆู‘ูู…ู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽุนู’ู‚ููˆู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰

Adapun apa yang diakui menjadi hak para mustahiq zakat adalah aspek kemaslahatan untuk memenuhi kebutuhan mereka, sehingga boleh diberikan berupa harganya. Hal ini berbeda dengan hadyu dan kurban yang esensinya adalah aliran darah (penyembelihan), sehingga seandainya setelah hewan kurban itu disembelih binasa sebelum dibagikan, maka tidak ada kewajiban sedikit pun yang dibebankan kepada orang yang kurban. Penyembelihan kurban itu tidak dapat diukur dengan harga, dan tidak dapat dirasionalkan makna kemuliaannya “.

Demikian pula hal yang senada dinyatakan oleh Zain ibn Ibrahim ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Bakr (926-970 H) di dalam Al-Bahr ar-Raiq, jilid II, h.238. Adapun sedikit kutipan kalimatnya sebagai berikut:

ู‚ูŽูŠู‘ูŽุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู†ู‘ููู ุจูุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฌููˆู’ุฒู ุฏูŽูู’ุนู ุงู„ู’ู‚ููŠู’ู…ูŽุฉู ูููŠู’ ุงู„ุถู‘ูŽุญูŽุงูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู‡ูŽุฏูŽุงูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุนูุชู’ู‚ู ู„ูุฃู†ู‘ูŽ ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุจูŽุฉู ุฅุฑูŽุงู‚ูŽุฉู ุงู„ุฏู‘ูŽู…ู ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุชูŽู‚ูŽูˆู‘ูŽู…ู


Penyusun
Kanz ad-Daqaiq membatasi (pembahasan mengenai boleh memberikan berupa harga) dalam kewajiban zakat. Persoalannya, tidak boleh memberikan dalam bentuk harga atas kurban, hadyu dan memerdekakan budak karena esensi kurban adalah aliran darah (penyembelihan) yang tidak dapat diukur dengan harga

Iuran Kurban Dibagikan Uang

Iuran kurban adalah dana yang dikeluarkan oleh beberapa orang untuk kurban, tetapi dana yang terkumpul tidak untuk membeli hewan kurban melainkan dibagikan dalam bentuk uang. Praktek ini sama dengan kurban berupa uang, dan secara jelas tidak sah sebagai kurban karena kurban harus dilaksanakan dalam bentuk penyembelihan hewan ternak, tetapi sah menjadi shadaqah bila para pembayar iuran ikhlas memberikannya.

Jika sebelum pembayaran itu telah dinyatakan untuk pembelian hewan kurban kemudian dibagikan dalam bentuk uang, maka wajib menanggung dan mengembalikan dana iuran itu kepada para pembayarnya karena menyalahi tujuan semestinya.

Apabila cara ini dimaksudkan untuk menggali sumber dana untuk kepentingan pribadi dengan dalih kurban, maka sungguh tidak mendidik, tidak layak dan tidak terpuji untuk dilakukan. Bahkan hal ini dapat dikategorikan sebagai bentuk tipu daya yang menodai kebenaran dan mencederai kejujuran. Hendaklah praktek seperti ini tidak terjadi di tengah masyarakat kita. Amin.

KH Arwani Faishal
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU

Amalan, Hizib dan Azimat

26 Dec

Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

ุงูุฏู’ุนููˆู’ู†ููŠู’ ุฃูŽุณู’ุชูŽุฌูุจู’ ู„ูŽูƒูู…ู’

Berdoalah kamu, niscya Aku akan mengabulkannya untukmu. (QS al-Mu’min: 60)

Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Di antaranya adalah:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽูˆู’ูู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุงู„ุฃุดู’ุฌูŽุนููŠุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ:” ูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุฑู’ู‚ููŠู’ ูููŠู’ ุงู„ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉูุŒ ููŽู‚ูู„ู’ู†ูŽุง: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุฑูŽู‰ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงุนู’ุฑูุถููˆู’ุง ุนูŽู„ูŽูŠู‘ ุฑูู‚ูŽุงูƒูู…ู’ุŒ ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูุงู„ุฑู‘ูู‚ูŽู‰ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ูููŠู’ู‡ู ุดูุฑู’ูƒูŒ


Dari Auf bin Malik al-Asjaโ€™i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.”
(HR Muslim [4079]).

Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya) Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut.” Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anakยญanaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya.
(At-Thibb an-Nabawi, hal 167).

Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman meoggunakan azimat, misalnya:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ู‚ุงูŽู„ูŽ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽูŠ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ุฑู‘ูู‚ู‹ู‰ ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู…ูŽุงุฆูู…ูŽ ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽูˆูŽุงู„ูŽุฉูŽ ุดูุฑู’ูƒูŒ

Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, โ€œ’Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.โ€ (HR Ahmad [3385]).

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan:

“Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qurโ€™an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181)

lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

A-Marruzi berkata, ”Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).” Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, “Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil.” Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah wal Minah al-Mar’iyyah, juz II hal 307-310)

Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.

1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW

2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.

3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.” (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).

KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember

Dra. Hj. Maria Ulfa MA.

26 Dec

Perkenalkan Qiraat di Dunia Internasional

quran

Sebagai agama paripurna, Islam sangat menghargai kesenian. Salah satu bukti nyata adalah bagaimana ayat-ayat dalam Al-Quran tak lain adalah bait-bait yang tersusun rapi. Dan ini diakui dunia, termasuk oleh para ahli puisi (sya๏ฟฝir) zaman Jahiliyah, era di mana Al-Quran hadir di dalamnya.

Selanjutnya, apresiasi terhadap nilai estetika wahyu Ilahi itu dikembangkan dalam bentuk cara membacanya, yakni dengan lagu. Maka lahirlah apa yang dikenal dengan Qira-at (bin-Nagham), yang di tengah masyarakat kita sudah tak asing lagi. Dalam acara-acara seremonial, sudah menjadi tradisi umat Islam di sini menjadikannya sebagai mata acara pembuka.

Bahkan kemudian seni membaca Al-Quran itu dilombakan, mulai tingkat RT hingga nasional, dengan sebutan Musabaqah Tilawatil Qur๏ฟฝan (MTQ). Yang membanggakan, dalam even-even perlombaan tingkat dunia, nama bangsa kita pun terangkat karena tak sedikit utusan kita menjadi juara. Sebut saja qari H Mu๏ฟฝammar ZA yang berhasil dalam memelopori qira๏ฟฝat dalam bacaan Sab๏ฟฝah, mengembangkan apa yang dilakukan oleh Syekh ๏ฟฝAntar dari Mesir.
Di antara sekian qari/qari-ah terbaik di negara kita, terdapat seorang wanita. Maria Ulfa namanya. Wanita berpenampilan anggun itu lahir di satu desa di Lamongan Jawa Timur pada 21 Desember 1955, anak ke sembilan dari 12 bersaudara, hasil pernikahan Mudzaffar dengan Ruminah.

Mudzaffar sendiri dikenal dermawan. Sejak bujang, dari usaha tenun yang digelutinya tak sedikit tanah yang ia wakafkan untuk pembangunan masjid dan madrasah. Tak hanya itu, demi syiar agama kerap kali ia mengundang para muballigh ke kampungnya. Salah satunya adalah Kiai Ichsan dari Cepu, yang karena tertarik dengan kepribadian pemuda itu, kemudian menjadikan Mudhaffar sebagai menantunya, dinikahkan dengan puterinya bernama Ruminah.

Maka tak heran jika sejak kecil Maria Ulfa merasa tertarik mendalami ilmu agama. Sehingga, setelah lulus dari pendidikan formal pertamanya (SDN 1 Lamongan), ia melanjutkan ke Madrasah Mu๏ฟฝallimat NU. Di sinilah ia mendapat ilmu agama lebih dalam, seperti tajwid, nahwu-sharaf dan lainnya.
Selepas dari
sana (1971), Ulfa memutuskan melanjutkan studinya ke pesantren, yaitu Bahrul Ulum Jombang, lalu IAIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas Syari๏ฟฝah. Di sinilah Allah mengujinya. Baru sebulan kuliah ayahnya meninggal, dan dua tahun kemudian ibunya menyusul.

Berhasil menyabet gelar sarjana dari IAIN tak membuatnya puas diri. Ia kemudian melanjutkan ke Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, kampus khusus perempuan yang banyak mencetak para hafidzah dan qari-ah, milik Pemerintah Daerah DKI Jaya. (Di sisi IIQ, di Jakarta terdapat kampus serupa, khusus laki-laki, PTIQ ๏ฟฝPerguruan Tinggi Ilmu Al-Quran- yang dikelola oleh bos Pertamina, Ibu Soetowo).

Lulus dari IIQ ๏ฟฝdan mendapat gelar MA- sebenarnya gadis yang selalu haus ilmu itu ingin melanjutkan pengembaraan ilmunya ke luar negeri, yaitu Universitas AL-Azhar Kairo Mesir. Tetapi takdir berbicara lain.
Usai diwisuda, kakak sulungnya menjemput, memintanya pulang ke kampung halaman, guna dinikahkan dengan seorang lelaki pilihan orangtuanya. Dalam rangka menunjukkan birrul walidayn, Ulfa menuruti. Maka, setiba di rumah, akad nikah pun segera dilaksanakan.

Dan benar saja. Berkat bakti kepada orangtua ๏ฟฝmeski sudah tiada- kehidupan rumahtangganya berjalan harmonis, bahagia dan bermanfaat bagi umat. Apalagi sang suami adalah tetangga berhadapan rumah sekaligus teman sepermainan waktu kecil.
Kini, bersama sang suami tercinta, dr Mukhtar Ihsan, laki-laki jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, spasialis paru yang sekarang mengajar di FK UI Jakarta, lahir tiga anak laki-laki sebagai permata hati mereka berdua.

Selain itu, di usia berkepala lima, cita-citanya merengkuh ilmu sebanyak mungkin tak juga pupus. Empat tahun lalu ia memutuskan mengikuti program doktoral di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

http://www.dutamasyarakat.com/rubrik.php?id=22234&kat=Nahdliyin

H. Muammar Z.A.

26 Dec

Al-Quran Membawaku Keliling Dunia

Suaranya yang merdu dalam melantunkan Al-Quran, mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari lereng gunung, lembah, ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan ke dalam Kaโ€™bah. Lantunan suaranya mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja.

muammar

Malam baru saja beranjak, ketika sesosok pria yang masih terlihat muda menaiki panggung dan duduk di kursi yang disediakan. Usai salam dengan suara rendah cenderung serak, pria berperawakan ramping itu mulai membaca taโ€™awudz dan basmalah. Dengan mata setengah terpejam, perlahan, ia mulai mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama bayati, lagu pembuka qiraah yang bernada rendah.

Perlahan tapi pasti suara itu meningkat, terkadang melengking tinggi, melantun panjang. Di depannya, ratusan orang bagaikan tersihir, terkesima mendengarkan lantunan suaranya yang naik-turun mengirama, bagaikan gelombang ombak yang susul-menyusul menghampiri pantai. Tak jarang, setiap kali alunan suaranya berhenti untuk mengambil napas, puluhan kepala, seperti tersadar dari hipnotis, segera menggeleng takjub.

Ia memang โ€œlegendaโ€. Meski Musabaqah Tilawatil Quran secara rutin digelar di berbagi tingkatan, belum ada satu pun yang menyamainya. Hampir semua umat Islam Indonesia, terutama di pedesaan, jika ditanya siapakah qari yang paling dikenal di Indonesia, jawabnya pasti Ustaz H. Muammar Z.A.

Suaranya yang merdu serta keindahan iramanya dalam melantunkan Al-Quran begitu termasyhur. Kelebihan ini pula yang mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari desa-desa di lereng gunung, tepi lembah dan ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan mengantarkannya masuk ke dalam Kaโ€™bah. Lantunan suaranya yang khas mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja. Ia penah mengaji di istana Raja Hasanah Bolkiah, istana Yang Dipertuan Agong Malaysia, sampai istana raja-raja di Jazirah Arab.

Awal Juli, Alkisah mengunjungi pria kelahiran Pemalang ini di kediamannya di depan Masjid Al-Ittihad, di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ayah satu putri dan empat putra ini bertutur renyah, diselingi tawa segar.

Naik Tandu
โ€œSaya ini anak kampung yang beruntung bisa keliling dunia, bisa mengaji saat jemaah haji wukuf di Padang Arafah dan saat bermalam di Mina. Bahkan, pada tahun 1981, saya diberi kesempatan masuk ke dalam Kaโ€™bah,โ€ tuturnya haru. โ€œWah, nggak kebayang sebelumnya. Di dalam Kaโ€™bah saya cuma bisa tertunduk, menangis. Saya nggak berani mengangkat wajah dan memandang langit-langit.โ€

Lebih dari 25 tahun, Muammar melanglang buana, melakukan perjalanan yang menurutnya sangat mengasyikan. Dalam menghadiri undangan mengaji, ia pernah mencoba berbagai kendaraan, dari mulai naik pesawat pribadi, pesawat komersial, limousine, ojek, sampai tandu. Medan pegunungan Jawa Barat, tuturnya, yang paling sering membuatnya ditandu. Sementara pedalaman Kalimantan dirambahnya dengan glotok, ojek perahu mini yang mampu menjangkau sungai-sungai kecil di pedesaan.

Suatu ketika, ceritanya, ia diundang mengaji di beberapa tempat di daerah Garut. Qari yang puluhan kasetnya masih terus dicari orang ini menempuh perjalanan Bandung-Garut-Cikajang-Singajaya dengan kendaraan roda empat. Namun perjalanan berikutnya yang naik-turun gunung harus dilaluinya dengan ojek, dan terakhir jalan kaki menyusuri jalan setapak.

Kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Muammar tidak mampu lagi berjalan. Panitia yang mengawalnya pun berinisiatif untuk menyewa tenaga orang kampung untuk menandunya sampai di lokasi pengajian. Setelah berjalan kaki selama empat jam, ia pun tiba. Dan yang membuat semangatnya bangkit kembali, ternyata, ratusan hadirin masih dengan setia menunggu kehadirannya.

โ€œSampai di tempat pengajian jam dua belas malam, saya langsung mengaji,โ€ kenang pangasuh Pesantren Ummul Qura, Cipondoh, ini. โ€œSelesai mengaji, jam setengah dua, kami turun. Sampai di kota Garut jam setengah delapan pagi.โ€

Tidak sekali-dua kali perjalanan seperti itu dilakoninya. Belum lama ini, untuk kesekian kalinya, Muammar menghadiri undangan ke Cianjur bagian selatan, daerah Cikendir, yang juga harus dilalui dengan jalan kaki berjam-jam di jalan setapak berlumpur. Pulangnya, ia kelelahan. Dan akhirnya, lagi-lagi, ditandu.
Ia memang tidak pernah memilih-milih tempat atau pengundang. Baginya, selama ada waktu, dan kondisi fisiknya memungkinkan, pasti dengan senang hati ia akan hadir. Dari koceknya ia membayar sekitar 500 ribu kepada para pemandunya.

โ€œNiat saya itu kan berkhidmah,โ€ tutur Muammar dengan rendah hati. โ€œIstana, saya datangi. Pelosok kampung pun, saya kunjungi.โ€

Ia meyakini, ia bisa terus mengaji. Dan kariernya terus langgeng seperti sekarang ini, antara lain, berkat doa orang-orang yang tinggal di pelosok desa dan pegunungan yang pernah dihadirinya mereka itu. โ€œMereka itu betul-betul ikhlas, baik, dan jujur,โ€ katanya tulus.

โ€œBayangkan, untuk menghadiri pengajian saya, mereka sampai harus berjalan puluhan kilometer. Bahkan ada yang membawa bekal dan kompor, serta masak di perjalanan.โ€

Dalam perjalanan berkhidmah ini pula, Muammar pernah mengalami kecelakaan lalu lintas di daerah Cirebon menjelang tahun 1990-an. Mobilnya hancur dan ia pun terluka parah. Cukup lama ia harus menginap di rumah sakit. Saat itulah Muammar merasakan kedekatan dengan para ulama yang bergiliran menjenguknya. Tak jera, setelah pulih ia pun kembali menjelajahi pelosok tanah air, untuk melantunkan firman-firman Tuhannya.

Sejak Belia
Meski masih terlihat cukup muda, Ustaz Muammar tahun ini menginjak usia 51 tahun. Ia dilahirkan di Dusun Pamulihan, Warungpring, Kecamatan Moga, sekitar 40 kilometer selatan ibu kota Kabupaten Pemalang, dari pasangan H. Zainal Asyikin dan Hj. Muโ€™minatul Afifah, ulama dan tokoh masyarakat di desanya. Muammar adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Namun hanya sembilan yang masih hidup. Belakangan, adiknya, Imron Rosyadi Z.A., juga mengikuti jejaknya menjadi qari nasional setelah menjuara MTQ. Adiknya yang bungsu, Istianah, kini menjadi salah satu anggota DPRD Tingkat I Yogyakarta.

Muammar mengenal qiraah sejak belia. Ia memang berasal dari keluarga qari. Ayah dan kakak-kakaknya dikenal bersuara merdu. Sang ayah adalah pemangku masjid di dusunnya, yang setiap akhir malam melantunkan tarhiman, selawat dan puji-pujian untuk membangunkan orang-orang guna mendirikan salat Subuh.

Waktu kecil, ia, bersama teman-temannya, belajar seni baca Al-Quran dari teman lain yang lebih besar, yang kebetulan menguasai beberapa lagu. Di samping itu Muammar mulai keranjingan terhadap qiraah, belajar secara serius pada kakaknya, Masykuri Z.A. Namun karena kakaknya tinggal di sebuah pesantren yang cukup jauh dari desanya, pelajarannya baru akan bertambah jika Masykuri pulang ke rumah ketika liburan.
Namun demikian bakat Muammar mulai kelihatan. Tahun 1962, ia menjuarai MTQ tingkat Kabupaten Pemalang untuk tingkat anak-anak, mewakili SD-nya.

โ€œWaktu itu saya masih memakai celana pendek saat mengaji, he he he,โ€ kenang Muammar.
Sekitar awal tahun โ€˜60-an, suara dan lagunya memang sudah mulai bagus, meski hafalan suratnya masih terbatas. Ia sudah mulai diundang untuk mengaji di acara-acara pengajian atau pengantinan di kampungnya. Dan lucunya, ayat yang dibaca itu-itu saja. Ketika kakaknya pulang dari pesantren, barulah hafalan ayat dan lagunya bertambah.

Selepas SD, Muammar sempat nyantri di Kaliwungu, Kendal, sebelum melanjutkan ke PGA di Yogyakarta. Selesai PGA, ia sempat juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Di Kota Gudeg, ia melanjutkan kiprahnya di bidang seni baca Al-Quran. Muammar mengikuti MTQ tingkat Provinsi DIY yang diadakan oleh Radio Suara Jokja tahun 1967. Ia berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat remaja. Tahun-tahun berikutnya, Muammar ikut lagi dan kembali juara. Tahun itu juga, ia mewakili DIY ikut MTQ tingkat nasional di Senayan tingkat remaja, namun ia belum meraih juara.

Sejak itu, Muammar menjadi langganan tetap kontingen DIY di MTQ Nasional, tahun 1972, 1973, dan seterusnya. Tahun 1979, ia bahkan terpilih menjadi anggota kontingen Indonesia di sebuah haflah, semacam MTQ internasional, yang diselenggarakan di Mekah. Gelar juara nasional pertama kali diraihnya di MTQ Banda Aceh tahun 1981. Kali ini ia mewakili DKI Jakarta. Muammar yang saat itu tengah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Ciputat, mendapatkan hadiah sebuah televisi. Pemerintah Provinsi DKI sendiri kemudian memberi tambahan bonus hadiah, ibadah haji.

Namun, tidak seperti kariernya di bidang tarik suara, dalam pendidikan Muammar mengakui kurang berhasil. Kuliahnya di PTIQ yang tinggal skripsi tidak selesai. Waktu itu, kata sang qari, ada perubahan peraturan yang agak mendadak. Jika semula syarat ujian skripsi itu hafal lima juz Al-Quran, tiba-tiba diubah menjadi 30 juz.
โ€œWah, saya nggak siap,โ€ ujar Muammar jujur. Meskipun demikian, uniknya, setelah menjadi juara nasional dan qari internasional, ia justru diminta mengajar di sana.

Tidak Berpantang
Ditanya mengenai rahasia suaranya, suami Syarifah Nadiya ini dengan serius mengatakan tidak mempunyai resep rahasia apa pun. โ€œDalam hal-hal seperti itu, saya cenderung rasionalis,โ€ ungkap Muammar. โ€œSaya nggak begitu percaya pada hal-hal begituan, seperti nggak boleh makan ini-itu, harus cukup tidur, atau harus tidur jam segini. Bahkan saya jarang tidur lho, apalagi sebelas hari ini saya selalu pulang pagi.โ€

Ia pun mengakui, meski dulu pernah sekali ikut-ikutan mencoba, tidak berani ikut gurah. โ€œSaya nggak berani ikut,โ€ katanya. โ€œApalagi yang enggak jelas. Karena, salah-salah malah merusak pita suara. Kalau cuma melegakan, mungkin ya. Tapi kalau dipaksakan begitu lalu saraf tenggorokannya putus, kan malah jadi penyakit, he he he.โ€ Sebenarnya, kata Muammar, kalau memahami tata cara wudu yang benar dan menerapkannya, itu juga sudah menjadi gurah. Misalnya ketika istinsyaq, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkan lagi dengan keras.

Disinggung bagaimana kiatnya menjaga suara, qari yang pernah diundang mengaji di istana Yang Dipertuan Agong Malaysia dan Sultan Hasanah Bolkiah, Brunei, ini mengaku hanya memasrahkan diri kepada Allah. โ€œNiat saya mau ngaji lillaahi taโ€™ala, โ€˜Ya Allah, tolong sayaโ€™.โ€ Namun yang pasti, setiap bangun tidur ia selalu melakukan warming up, pemanasan, dengan rengeng-rengeng, menggumamkan nada-nada tilawah. Demikian juga ketika akan mengaji. Menurutnya ini penting, untuk menghindari kaget.

Berbeda dengan para penyanyi yang banyak mempunyai pantangan, terutama makanan dan minuman, Muammar menyantap hampir semua makanan dan minuman yang disukainya. Bahkan, makanan kesukaannya adalah sambel, lalap, dan ikan asin, yang harus selalu ada di meja makannya.

โ€œSaya hanya memastikan, ketika saya mau ngaji, kondisi badan saya fit,โ€ ungkapnya, berbagi resep. โ€œBaru kemudian, kunci terpentingnya adalah mengaji dengan ikhlas dan perasaan senang.โ€

Bagi Muammar, mengaji dengan ikhlas dan senang hati itu menjadi hiburan dan kenikmatan tersendiri. Maka, tak mengherankan, setiap kali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, ia tampak begitu menikmati. Terkadang matanya setengah terpejam, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. โ€œPokoknya saya dengerin sendiri, karena memang pada dasarnya saya suka.โ€ Itu, menurutnya, membuatnya mampu mengaji minimal setengah jam, jika di dalam kota. โ€œKarena mereka kan sering ketemu saya. Tapi kalau di luar kota, terlebih di luar Jawa, saya bisa satu jam, bahkan lebih.โ€

Dalam satu hari biasanya ia mengaji di tiga sampai empat tempat. Di beberapa tempat, terkadang ia juga berceramah, biasanya jika mubalignya tidak datang. Mengaji itu pula yang mempertemukannya dengan sang istri tercinta, ketika sang pujaan hati yang dinikahinya pada tahun 1984 itu duduk dalam kepanitiaan sebuah pengajian di Kemanggisan. Buah pernikahan dengan wanita berdarah Aceh itu kini sebagian telah beranjak remaja.
Lia Fardizza, putri sulung qari yang pernah berguru kepada Syekh Abdul Kholil Al-Mishri, qari besar Negeri Piramid, kini menginjak semester ketiga di London School, jurusan bahsa Inggris. Sejak TK, Lia memang gandrung dengan bahasa internasional tersebut, terlihat dari hobinya membaca komik-komik berbahasa Inggris. Belakangan ia juga gemar mendendangkan lagu-lagu Barat. Tidak mengherankan, dialek lisannya, menurut Muammar, cenderung ke Amerika.

Putra-putranya, Ahmad Syauqi Al-Banna, kini duduk di kelas 3 SMU, Husnul Adib Al-Hasyim kelas 2 SMP, Raihan Al-Bazzi, kelas 4 SD, dan si bungsu Ammar Yuaโ€™yyan Al-Dani, kelas 3 SD. Di antara lima anaknya, tiga di antaranya mewarisi keindahan suara sang ayahanda, Lia, Raihan, dan Ammar. Namun karena keterbatasan waktu serta kesibukan Muammar, diakuinya, potensi putra-putrinya itu belum tergarap.

Menurutnya, qari yang baik itu harus memiliki suara yang bagus, napas panjang, penguasaan lagu, dan dialek yang bagus. Dan, membentuk dialek itu tidak gampang. Orang Jawa, misalnya, akan cukup sulit mengucapkan huruf baโ€™ dengan benar. Ia sendiri mengaku cukup lama mempelajari dialek Al-Quran dengan memperhatikan dialek qari-qari dari Mesir, Arab, dan daerah Timur Tengah lainnya.

Qari lokal yang bagus, menurut Muammar, biasanya yang berasal dari pesantren Al-Quran yang kebetulan pengasuhnya juga seorang qari mumpuni. Ini karena sang kiai biasanya mempunyai kelengkapan ilmu qiraah dan kepekaan, maka pembelajaran qiraahnya juga dilengkapi dengan ilmu tajwid, makharijul huruf (ilmu pelafalan huruf Al Quran), dzauq (cita rasa bahasa), dan sebagainya.

Dari Pedesaan
Karena itulah, sejak empat tahun Muammar memulai pembangunan sebuah pesantren di daerah Cipondoh, yang dinamakannya Ummul Qura. Karena seorang qari, ia bercita-cita menyebarkan tradisi qiraah ini melalui pesantrennya ini, sebagai sumbangan pada bangsa. โ€œKalau Allah mengizinkan,โ€ kata Muammar, โ€œsaya ingin mencetak Muammar-Muammar baru.โ€ Melalui lembaganya itu pula, ia mengharapkan, seni baca Al-Quran akan kembali dicintai dan dikagumi umat Islam.

Muammar bercita-cita membangun sebuah lembaga pendidikan yang komprehensif, mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA yang mempunyai nilai plus, Al-Quran. Ia mengharapkan bisa membekali santrinya dengan kelengkapan ilmu-ilmu Al-Quran, baik tajwid, qiraah, dasar-dasar tafsir, maupun tahfidz-nya (hafalan Al-Quran). Paling tidak, targetnya setamat SD atau SMP para santri akan mampu membaca Al-Quran dengan fasih, baik, dan benar.

โ€œTerlebih dengan lingkungan yang Islami di pesantren, setidaknya mereka akan mempunyai pegangan hidup.โ€
Pada tahap awal, sudah dibangun sebuah masjid, ruang baca, dan dua buah gedung asrama. Ke depan ia ingin membangun sekolah formal dulu, baru kemudian akan diasramakan. Namun, karena keterbatasan dana, sementara ini pembangunan Pesantren Ummul Qura tersebut tersendat.

Tanggal 22 Juli kemarin di Gorontalo diselenggarakan Seleksi Tilawatil Quran tingkat nasional. Namun, tidak seperti pada dasawarsa โ€˜80-an, event empat tahunan yang diselenggarakan untuk menjaring bibit-bibit baru qari dan qariah serta penghafal dan mubalig berbasis Al-Quran ini sepertinya tak lagi memiliki gaung.
โ€œAkhir-akhir ini semangat mendalami seni membaca Al-Quran di masyarakat kita ini memang cenderung mengalami penurunan,โ€ tutur qari yang pernah diminta membaca Al-Quran saat wukuf di Padang Arafah. โ€œApalagi kecintaan terhadap Al-Quran.โ€

โ€œBelakangan ini, perhatian orang, terutama generasi mudanya, lebih tercurah ke kontes-kontes musik yang memang lebih memikat,โ€ ujar tokoh berusia 51 tahun ini gundah. โ€œSementara MTQ, dari dulu kemasannya tidak pernah berubah.โ€ Ia merindukan, MTQ ke depan akan mempunyai gereget dan gaung yang besar, seperti pada masa-masanya dulu.

Lebih lanjut, Muammar juga mengharapkan optimalisasi peran lembaga resmi yang dibentuk untuk mengembangkan seni baca Al-Quran, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran. Idealnya, lembaga tersebut tidak hanya sibuk menjelang pelaksanaan STQ atau MTQ, atau menjaring bahan jadi, tetapi secara intensif dan konsisten menggali dan membina bibit unggul sejak dari tingkat dusun. โ€œSelama ini, bukankah juara-juara tilawah justru banyak muncul dari pedesaan, yang ekonominya pas-pasan….โ€ (AIS-September 2005)

http://ahmad-iftah-shiddiq.blogspot.com/2006/03/ustad-muammar-za.html